UA-132803831-1

Toyota Indonesia (TMMIN) mempertahankan ceruk pasar ekspor global. Periode Januari-Oktober 2018, mereka membukukan ekspor mobil dalam bentuk utuh (CBU) hingga 173.700 unit. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, hasil ini tetap positif. Meski, hanya naik 2% dari sebelumnya, 170.400 unit. Torehan positif tetap digenggam manufaktur, sungguhpun ada tantangan perekonomian global. Terutama negara-negara tujuan ekspor masih belum stabil.

Ini diakui Presiden Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono. Ia mengatakan, beberapa negara tradisional tujuan ekspor Toyota Indonesia masih mengalami resesi ekonomi. Namun, menurut Warih, kondisi ini senantiasa dimanfaatkan Toyota Indonesia untuk tetap bisa menjaga efisiensi produksi dan kualitas global. Jadi produk selalu kompetitif dari negara lain.

“Daya saing menjadi kunci utama. Toyota Indonesia dan seluruh rantai pasok harus meningkat, dengan tetap mengedepankan kualitas. Termasuk di dalamnya menggunakan sebanyak mungkin material lokal. Maka produksi kita bisa semakin kompetitif dan terserap dengan baik oleh negara tujuan ekspor,” jelas Warih.

Kalau dielaborasi lebih detail, pencapaian ekspor terbantu oleh lima produk Toyota Indonesia. Fortunermasih jadi penopang utama dengan kontribusi 43.400 unit. Besarannya 25% dari total pengiriman CBU bermerek Toyota. Posisi kedua ditempati Avanza dengan hasil 30.700 unit (18%), kemudian Agya 27.200 unit (16%).

Fortuner dominasi ekspor TMMIN

Peringkat empat terdapat generasi terbaru Rush menyusul dengan angka 25.600 unit (15%). Sedangkan menutup posisi lima besar, diduduki Vios, sekaligus menjadi satu-satunya sedan yang diproduksi di Indonesia. Sedan kompak ini berhasil jadi primadona dengan penjualan 20.300 unit. Produksi dan kinerja ekspor Vios tetap digenjot, meski Vios bukan primadona pasar domestik.

Selain ekspor mobil dalam kondisi CBU, Toyota Indonesia juga mengirimkan dalam bentuk terurai utuh (CKD). Pada periode yang sama, tercatat 35.500 unit mobil CKD yang dikirim dari pabrik Karawang, Jawa Barat ke luar negeri.

Misalnya, sebagai bagian dari rantai pasok dunia, Toyota Indonesia juga mengekspor komponen kendaraan bermotor, dengan total 81,9 juta. Belum lagi pengiriman mesin dalam bentuk utuh (engine assy), yakni 37.300 unit tipe TR dan 87.800 unit tipe RNR. Dilihat dari besaran angkanya, kontribusi Toyota Indonesia paling besar sebagai global supply chain.

Bob Azam, Direktur TMMIN, menambahkan, konsistensi dan keberhasilan ekspor brand Toyota dari Indonesia menunjukkan posisi Indonesia sangat strategis bagi jaringan global Toyota. “Toyota Indonesia juga terus menciptakan SDM lokal berkualitas. Salah satunya lewat pendidikan Toyota Indonesia Academy (TIA) dan program vokasi sesuai strategi pemerintah. Dengan SDM berkualitas, Toyota Indonesia bisa tetap kompetitif menghadapi persaingan dari negara lain dan itu kami lakukan,” tutup Bob.